Kisah Keajaiban Cinta

Waktu dua minggu untuk acara pameran itu kini hampir habis, dan kini tinggal dua hari lagi yang tersisa. Selama waktu-waktu itu, Fitria tak pernah melewatkan malamnya untuk berkunjung ke museum itu, menikmati kebersamaannya dengan Adrian, sosok lelaki yang telah menumbuhkan berjuta bunga indah di dalam kebun hatinya, di hamparan taman kehidupannya. Mungkin lelaki itu memang malaikat yang sengaja diturunkan dari langit untuk menemuinya, batin Fitria setiap kali terbayang Adrian dengan segala kelembutan dan sikap manisnya.

Malam itu pun, Fitria telah sampai kembali ke museum itu, namun sosok yang paling dirindukannya tak dapat ditemukannya.

Fitria telah memasuki ruangan di ujung tikungan tempatnya biasa bertemu dengan Adrian, namun sampai cukup lama ia berada di sana, Adrian tetap belum muncul juga. Kemana dia? Fitria mencoba menyabarkan dirinya sendiri dan berpikir mungkin Adrian sedang melayani pengunjung lain yang membutuhkan bantuannya, namun sampai ia merasa pegal menunggu, Adrian tetap belum muncul.

Fitria lalu keluar dari ruangan itu dan mencoba mencari sosok Adrian di seluruh ruangan museum, dengan harapan dia dapat menemukannya di salah satu ruangan lain di museum itu, namun tetap saja Adrian tak bisa ditemukannya. Fitria kembali memasuki ruangan di ujung tikungan itu dan kembali menunggu Adrian di sana, namun penantiannya sia-sia. Adrian tetap tak pernah muncul kembali.

Sampai pukul sepuluh malam Adrian tak dapat dilihatnya, dan Fitria harus keluar dari museum itu saat seorang petugas museum mendatanginya dan sambil tersenyum sopan petugas itu berkata, “Maaf, museum akan segera tutup.”

Fitria merasa bahwa dia harus bertanya—menanyakan Adrian. Maka dia pun memberanikan diri untuk bertanya pada petugas yang mendatanginya itu.

“Maaf, sejak tadi saya tidak melihat Adrian,” kata Fitria sesopan mungkin, “apakah dia tidak masuk hari ini?”

“Maksud Anda Adrian yang bekerja di museum ini?” tanya petugas museum itu.

Fitria mengangguk.

Petugas itu jadi terlihat serba salah. Dan sebelum ia menjawab pertanyaan Fitria, matanya terlihat melirik ke arah meja tempat beberapa barang dipamerkan di sana. “Dia...eh, maksud saya Adrian, memang tidak masuk hari ini,” jawab petugas itu kemudian.

Fitria mengangguk dengan bingung. Ia kemudian menengok ke arah meja tempat memamerkan barang-barang di depan patung yang sendirian itu, dan Fitria seperti baru menyaksikan sesuatu yang berbeda di sana.

Kalung yang terbuat dari batu-batuan yang tadinya ada di sana kini tak ada lagi.

Bersambung ke: Kisah Keajaiban Cinta (11)