Kisah Keajaiban Cinta

Kuliah bahasa Inggris baru saja usai, dan Fitria membenahi buku-bukunya untuk ia masukkan ke dalam tasnya seperti biasa. Tak ada jam kuliah lagi hari ini, dan Fitria merasakan perutnya sudah keroncongan. Pagi tadi dia hanya minum teh hangat tanpa sempat makan apa-apa karena terburu-buru berangkat ke kampus. Dia ingin segera bertandang ke kantin di kampusnya, mengisi perutnya dengan soto ayam yang biasa disukainya—dan kemudian pulang, ke tempat kostnya.

Fitria tengah melangkahkan kakinya melewati deretan kelas ketika telinganya mendengar sapaan seorang cowok, “Hei, Cewek...!”

Secara spontan Fitria menengok ke arah belakangnya—kepada suara yang terdengar memanggil itu. Lalu mata Fitria pun menemukan sosok Denis, salah satu mahasiswa paling tampan dan paling populer di kampusnya, tengah menatap ke arahnya.

Fitria merasakan jantungnya berdebar—mungkin setiap perempuan akan berdebar kalau ditatap cowok setampan itu. Dan untuk mengurangi debaran jantungnya, Fitria pun menyahut panggilan Denis, “Ya...?”

Tetapi Denis menggelengkan kepalanya dengan jengkel. “Maksudku bukan kau yang kupanggil! Oh, sialan!” Lalu Denis berjalan cepat melewati Fitria yang masih berdiri terpaku, dan sudut pandangan Fitria menangkap sosok Denis yang tengah mendekati Jessica yang waktu itu sedang berjalan sendirian tak jauh dari tempat itu.

“Hei, Jes!” panggil Denis pada Jessica yang terdengar telinga Fitria.

Jadi dia bukan memanggilku, batin Fitria dengan perasaan malu yang tak enak. Seharusnya aku tahu, batin Fitria lagi dengan perasaan yang makin tak enak.

Ya, seharusnya Fitria tahu—dan menyadari—bahwa tidak mungkin ada seorang cowok—apalagi cowok yang setampan dan sepopuler Denis—yang memanggilnya atau menyapanya atau menegurnya. Fitria sudah cukup memahami bahwa dia tidak terlalu menarik bagi pandangan mata setiap cowok, dan dia sudah seringkali menyadarkan dirinya sendiri akan hal itu.

Dia tidak cantik—dia bukan perempuan yang bisa disebut—atau dianggap—cantik, dan Fitria memaklumi kalau dia bukanlah sosok yang sering didekati cowok-cowok—khususnya di kampusnya. Kampus tempatnya berkuliah ini penuh sesak dengan cewek-cewek cantik, dan rasanya Fitria tak perlu berharap banyak dari ‘persaingan’ itu.

Sebagai mahasiswi semester tujuh di Fakultas Sastra Inggris, Fitria adalah sesosok cewek (yang tidak cantik) berusia 22 tahun, dengan tinggi badan hanya 150-an centi meter—dengan berat badan yang sepertinya tidak proporsional. Ada beberapa bagian dari tubuhnya yang seharusnya telah mekar namun sepertinya tak pernah berkembang—dan itu begitu mengurangi daya tariknya sebagai seorang perempuan.

Kulitnya coklat matang dengan beberapa bintik kecil kemerahan—atau kehitaman—yang kadang muncul ketika hari amat panas. Mungkin dia alergi dengan sinar matahari. Dia memiliki bentuk wajah lonjong dengan rambut yang kelihatan kusam dan kering—mungkin ada kesalahan penggunaan shampo atau karena tak pernah dicuci shampo atau karena memang ia tak berminat menjadi bintang iklan shampo.

Kulit wajahnya juga sama keringnya dengan rambutnya—juga sama kusamnya—dan juga berwarna coklat matang seperti kulit tubuhnya yang lain. Satu-satunya hal yang cukup menakjubkan hanyalah bahwa di wajah itu tidak ada satu pun jerawat yang terlihat. Tetapi itu tidak kemudian membuat wajah Fitria menjadi kelihatan lebih cantik atau kelihatan tak terlalu jelek—justru sebaliknya.

Kawan-kawannya seringkali bertanya-tanya menyangkut hal itu (dan sialnya itu terdengar ke telinga Fitria). Biasanya mereka—kawan-kawannya itu—berbisik-bisik dengan ucapan yang kira-kira seperti ini, “Mengapa tidak ada satu jerawat pun di wajahnya? Kalau saja ada satu dua jerawat yang muncul, mungkin itu bisa sedikit mempercantik wajahnya.”

Bersambung ke: Kisah Keajaiban Cinta (2)