Tawaran Rumah dan Servisnya

Lusi bekerja sebagai pialang real estate dan biasa memberikan servis seks untuk pelanggannya agar si pelanggan membeli rumah yang ditawarkan. Saat itu pun dia telah mendapatkan seorang lelaki yang tengah melihat-lihat sebuah rumah yang ditawarkannya.

Seperti biasa, untuk memuluskan bisnisnya, Lusi pun memberikan servis seks untuk lelaki itu. Namun betapa jengkelnya Lusi ketika keesokan paginya, lelaki itu telah hilang dari tempat tidurnya sebelum memberikan kepastian menyangkut pembelian rumah itu.

Dengan jengkel Lusi pun berkirim SMS ke ponsel lelaki itu dan menyatakan, “Kalau berurusan soal bisnis jangan asal tinggal begitu, dong!”

Si lelaki kemudian membalas SMS itu dengan kata-kata, “Maaf, saya tidak puas dengan ‘rumah’ yang kamu tawarkan itu. Pertama, ‘rumah’nya jarang dimasuki. Kedua, terlalu besar. Ketiga, tidak ada airnya.”

Dengan jengkel, Lusi pun membalas SMS itu. “Hei, rumah yang jarang dimasuki menunjukkan kalau rumah itu masih bagus. Dan bukan rumahnya yang terlalu besar, tapi ‘perabot’mu yang terlalu kecil. Juga bukan salah rumahnya yang tidak ada air, tapi penyedotnya yang kurang bagus!”