Penonton Gelap

Mendekati hari-hari perkawinannya, Joni mulai dilanda perasaan was-was dan khawatir. Soalnya, dia dulu sering mengerjai teman-temannya yang akan menikah dengan segala macam kado dan permaian aneh-aneh untuk mengejutkan temannya itu. Joni takut kalau mendapat balasan serupa dari teman-temannya.

Tapi ternyata semuanya berjalan lancar. Saat resepsi perkawinannya itu usai, Joni bersama istrinya merasa aman-aman saja tanpa gangguan apapun yang sekiranya akan datang dari kawan-kawan Joni. Tak ada pistol air yang langsung menyembur saat kado terbuka, tak ada ucapan duka cita, tak ada kue berisi petasan, juga tak ada temannya yang minta hadir di kamar pengantin saat malam pertama.

Maka malam pertama itu pun dinikmati Joni dengan penuh kegembiraan. Bersama istrinya, dia bercinta dengan mesra, menggebu sekaligus panas. Sampai empat kali mereka melakukannya, dengan desahan napas dan erangan yang liar.

Keesokan paginya, karena malas keluar kamar, Joni mengangkat telepon di dalam kamar dan menghubungi pelayan rumahnya, “Mang, Mamang! Tolong siapkan sarapan untuk dua orang ya?!”

Tiba-tiba dari bawah ranjang terdengar suara, “Untuk enam orang, Mang...!”