Pegangan Hidup

Rino akan melangsungkan perkawinannya tak lama lagi. Untuk merayakan kegembiraannya itu, Rino pun mengadakan acara bersama beberapa temannya sebagai semacam akhir kebersamaan saat ia masih bujangan.

Maman, salah satu sahabat dekatnya yang sudah menikah, memberikan petuah padanya.

“Rin,” kata Maman, “suami itu memiliki tiga fungsi yang berbeda bagi istrinya. Makin tua usia si suami, berbeda pula fungsinya bagi sang istri.”

“Bagaimana itu, Man?” tanya Rino tertarik.

“Tiga fungsi itu adalah,” Maman menerangkan, “yang pertama; sandaran hidup. Yang kedua, pandangan hidup. Dan yang ketiga, pegangan hidup. Nah, semakin tua usiamu, fungsimu juga akan berbeda.”

“Bisa dijelaskan?”

“Waktu usia perkawinan masih muda, kau akan menjadi sandaran hidup. Maksudnya, istrimu baru bersandar saja, kau sudah bisa ‘hidup’. Setelah itu, kau akan berubah menjadi pandangan hidup. Kalau kau memandang istrimu, kau pun sudah bisa ‘hidup’. Saat kau semakin tua, kau akan menjadi pegangan hidup. Maksudnya, istrimu harus memegang-megang dulu, baru kau bisa ‘hidup’.”