Pacaran itu Apa...?

Ricky kecil penasaran dan ingin tahu apa yang dimaksud pacaran itu. Maka dia pun menanyakannya pada ibunya. Tapi ibunya merasa bingung untuk memberikan jawaban. Akhirnya sang ibu ingat kalau itu hari Sabtu, dan biasanya anak perempuannya akan diapeli oleh pacarnya kalau malam Minggu.

Maka si ibu pun kemudian berkata pada Ricky, “Kalau kamu ingin tahu apa itu pacaran, lihat saja kakakmu nanti malam.”

Malam harinya, kedua orangtua Ricky pergi kondangan, dan Ricky pun telah bersiap mengintip acara kakak perempuannya.

Tak lama kemudian, pacar kakaknya muncul dan menyapa, “Hei Rita...”

“Hei Joni,” sahut Rita, kakak perempuan Ricky.

Karena tahu rumah dalam keadaan sepi, Joni dan Rita pun memanfaatkannya dengan baik. Mereka bercumbu habis-habisan di taman belakang, sementara Ricky menyaksikan semuanya.

Besok paginya, Ricky mengatakan kepada ibunya bahwa dia telah tahu apa yang dimaksud pacaran itu. Karena merasa penasaran, ibunya pun berkata, “Coba ceritakan pada Ibu.”

“Ng...tadi malam,” Ricky memulai, “Mbak Rita sama Mas Joni duduk berdua di bangku taman belakang. Setelah ngobrol-ngobrol, mereka menempelkan bibirnya dan kemudian Mas Joni memandangi wajah Mbak Rita yang memerah. Mas Joni lalu memeriksa jantung Mbak Rita. Mungkin karena tak tahu dimana letak jantungnya, tangan Mas Joni pun terus bergerak ke kanan dan ke kiri. Setelah itu Mas Joni seperti jadi gelisah karena sepertinya ada sesuatu di dalam celananya. Ternyata memang benar, ketika celananya itu dibuka, ada seekor belut hidup di dalamnya. Mbak Rita segera menangkap belut itu dan mencoba membunuhnya dengan meremas-remasnya, tapi belut itu tidak mati-mati. Mbak Rita lalu memakan belut itu, dan Mas Joni terlihat meringis, mungkin karena kesakitan. Karena belut itu tidak mati juga, Mbak Rita lalu melepas celananya dan menduduki belut itu. Tapi ternyata belut itu sangat kuat dan tidak mati-mati meski sudah diduduki berkali-kali oleh Mbak Rita. Sementara Mas Joni terus meringis sementara Mbak Rita menduduki belut itu. Akhirnya setelah cukup lama mendudukinya, Mbak Rita pun mencekik belut itu hingga muntah. Barulah belut itu mati...”

Ibunya pingsan mendengarnya.