Memilih Guru SD

Anita tergolong kembang desa, karenanya tak heran kalau ada cukup banyak lelaki yang naksir kepadanya. Waktu itu, ada tiga orang lelaki yang secara serius mencoba melamar Anita. Ketiga lelaki itu masing-masing bekerja sebagai pegawai kantor pos, yang kedua berprofesi sebagai dokter, dan yang ketiga seorang guru SD.

Ketika lamaran dari ketiga lelaki itu datang, orangtua Anita sudah meramalkan kalau anak gadis mereka itu akan memilih si dokter atau setidaknya si pegawai kantor pos. Bagaimanapun juga semua orang tahu kalau penghasilan guru SD tergolong paling kecil kalau dibandingkan dengan dokter atau pegawai kantor pos.

Tetapi orangtua Anita ternyata salah sangka. Ketika Anita memutuskan pilihannya, dia memilih si lelaki yang berprofesi sebagai guru SD.

Setelah acara resepsi pernikahan selesai, orangtua yang merasa penasaran ini pun kemudian menanyakan hal itu pada anak gadis mereka, mengapa lebih memilih sang guru SD.

“Kalau pegawai kantor pos itu,” jelas Anita, “belum apa-apa sudah nanya, ‘yang biasa apa yang kilat?’. Itu yang saya tidak suka.”

“Lha kalau si dokter?” tanya ibunya.

“Sedang kalau si dokter tuh biasanya baru masuk kamar saja sudah nyuruh buka baju, pegang sana, periksa sini, selesai...selanjutnya cuma ngobrol-ngobrol.” Anita menjelaskan. “Beda dengan guru SD. Guru SD itu enak sekali. Dari awal dibahas, dikupas, sedikit demi sedikit, penuh kesabaran, kelembutan dan kehangatan serta pengertian. Selesai dikupas, dia nanya sudah ngerti apa belum, dan kalau saya jawab belum, diulangi lagi dari awal. Kan enak, tuh...?”