Lelaki yang Tak Terlihat

Saat baru sampai di akhirat, Budi dan Seno bercakap-cakap.

“Bagaimana ceritanya kau bisa berada di sini?” tanya Budi kepada Seno.

“Ceritanya panjang,” sahut Seno. “Waktu itu, aku tak sengaja pulang kantor lebih awal dari biasanya, dan saat sampai di rumah, aku mendapati istriku yang telanjang dan terlihat sangat gugup. Aku langsung saja menyimpulkan kalau istriku telah berselingkuh. Maka buru-buru aku mencari lelaki yang telah berselingkuh dengan istriku, karena kupikir dia belum jauh dari rumahku. Tapi sampai kemana-mana aku cari, lelaki itu tak dapat kutemukan. Saat aku akan masuk kembali ke dalam rumah, seorang lelaki melintas di depan rumahku, dan aku segera saja berpikir kalau itulah lelaki yang kucari itu. Segera saja kuangkat kulkas dan kuhantamkan pada lelaki itu. Lelaki itu kemudian mati, dan lalu terbukti kalau dia ternyata cuma tetanggaku yang kebetulan lewat di sana. Gara-gara hal itu, aku dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan, dan karena itulah aku sekarang sampai di sini.”

Budi mengangguk-angguk mendengar cerita itu.

“Nah, kalau kau sendiri,” lanjut Seno. “Bagaimana kau bisa sampai di sini?”

“Suatu hari aku butuh memanjat genteng rumahku karena kalau hujan selalu saja bocor,” cerita Budi. “Karena aku tak punya tangga, aku pun ke rumah tetanggaku untuk meminjam tangga. Tapi saat aku tengah berjalan menuju ke sana, tiba-tiba sebuah kulkas besar melayang ke tubuhku, dan...tiba-tiba saja aku telah sampai di sini.”

“Kalau begitu pasti kaulah yang telah kulempar itu,” sahut Seno. “Maafkan aku.”

“Tidak apa-apa.”

Kemudian mereka menengok ke seorang lelaki lain yang juga duduk di dekat mereka. “Kalau kau,” kata Seno pada lelaki ketiga itu. “Bagaimana kau bisa sampai di sini?”

Si lelaki ketiga menjawab, “Hm...aku mati kedinginan dalam kulkas yang kau lemparkan itu...!”