Ledakan Petasan

Dua orang wanita, Vini dan Wini, sama-sama berprofesi sebagai pelacur. Namun Wini terlihat lebih laris dibanding Vini. Maka suatu hari, Vini pun bertanya apa resep Wini hingga bisa lebih laris dari dirinya.

“Caranya gampang,” kata Wini, “setiap kali kamu menjajakan diri, katakan saja kalau kamu masih perawan.”

“Lho, nanti bagaimana kalau mereka tahu kalau saya sudah tak perawan lagi?” tanya Vini.

“Itu sih gampang,” sahut Wini. “Pakai saja petasan cabe rawit dicampur obat merah. Waktu lagi main sama pelangganmu, ledakkan petasan itu dan katakan kalau itu perawanmu yang pecah.”

Vini manggut-manggut, dan segera saja pergi mencari petasan cabe rawit. Tetapi rupanya waktu itu petasan cabe rawit sedang laku keras hingga sulit didapatkan. Semua penjual kehabisan petasan itu. (Mungkin banyak pelacur lain yang menggunakan petasan itu untuk melariskan dirinya).

Karena dongkol, Vini pun akhirnya beli petasan gajah. Pikirnya, kalau memang petasan cabe rawit tak ada, apa salahnya diganti dengan petasan ini? Maka dibawanyalah petasan sebesar kendi itu ke dalam kamarnya untuk persiapan nanti malam.

Malamnya, Vini mendapatkan teman kencan karena dia mengaku perawan. Saat mereka tengah bercinta di dalam kamar, Vini pun membuktikan keperawanannya dengan menyulut petasan gajah yang telah dipersiapkannya.

Sebuah ledakan menggema di dalam kamar, dan si lelaki terkejut bukan main. “Apa itu...?” tanyanya dengan bingung.

“Itu...perawan saya yang pecah,” kata Vini dengan yakin.

“Perawan sih perawan!” maki si lelaki. “Tapi biji saya kemana nih...???”