Antrian yang Macet

Ini cerita dari sebuah pertambangan di lepas pantai yang terisolir dari kehidupan penduduk. Karena memahami kebutuhan seks para pekerjanya, maka pihak manajemen perusahaan pertambangan itu pun menyediakan beberapa pelacur untuk melayani para pekerja tambang itu.

Suatu hari, jumlah pelacur yang ada di lokasi itu makin sedikit karena rupanya para pelacur itu merasa tidak betah di sana. Sampai tinggallah hanya seorang pelacur saja yang masih bertahan.

Karena tahu bahwa dia tak lagi punya saingan, pelacur ini pun kemudian memasang tarif yang cukup tinggi. Tarifnya adalah sepuluh ribu untuk sekali masuk, dan sepuluh ribu lagi untuk sekali keluar. Tinggal nanti totalnya dijumlahkan setelah permainan usai.

Karena pelacur tinggal seorang sementara pekerja tambang itu berjumlah banyak, terpaksalah para pekerja itu harus antri untuk bisa memuaskan hasratnya. Malam itu, berpuluh-puluh pekerja telah antri di depan kamar si pelacur menunggu giliran. Namun lelaki yang tengah ada di dalam kamar tidak keluar-keluar juga.

Ditunggu sampai satu jam, sampai dua jam, sampai tiga jam, akhirnya para lelaki yang antri di luar itu jadi tak sabar. Setelah empat jam berlalu, mereka lalu memutuskan untuk membuka paksa pintu kamar itu dan meminta si lelaki pembuat macet itu untuk gantian dengan yang lain.

Ketika pintu kamar berhasil dibuka, lelaki yang masih ada di dalam kamar terlihat masih menindih tubuh si perempuan.

“Lama amat sih??? Gantian dong! Antriannya jadi macet nih...!!!” ujar salah satu dari para pekerja itu pada si pembuat macet. “Kamu bawa duit banyak ya...???”

Lelaki si pembuat macet menoleh, kemudian menjawab, “Untung saja kalian masuk. Tolong pinjami aku sepuluh ribu. Aku mau keluarin ‘burung’ku, tapi aku cuma bawa sepuluh ribu!”