Dunia Tak Terlihat
Tetapi ternyata menjadi diri sendiri bukan berarti masalah yang dihadapi oleh Rafli telah selesai—dan Eliana baru menyadari kalau dia telah salah sangka. Kembalinya Rafli kepada identitasnya yang asli ternyata tak menghentikan petualangan yang harus dihadapi oleh pacarnya itu.

Kini pacarnya itu memang telah menjadi Rafli—menjadi dirinya sendiri yang asli, bukan Superman atau Spiderman lagi, namun rupanya dunia—dan juga umat manusia—masih membutuhkan cowoknya itu.

Sudah satu minggu ini Eliana tak mendapati Rafli di dalam kelas pada jam kuliah. Eliana tidak tahu kemana atau dimana cowoknya itu berada atau sedang melakukan kegiatan atau kesibukan apa hingga tak masuk kuliah sampai satu minggu lamanya. Beberapa kali Eliana menghubungi ponsel Rafli, namun selalu saja tidak aktif.

Eliana mencoba menghubungi telepon di rumah Rafli, dan selalu dijawab oleh orang di rumahnya kalau Rafli sudah tidak pulang selama seminggu lamanya—dan tak ada kabar apapun darinya. Eliana juga telah mencoba bertanya pada sahabat dan kawan-kawan dekat pacarnya itu dengan harapan salah satu di antara mereka ada yang tahu keberadaannya, namun semua upayanya sia-sia. Rafli seperti lenyap ditelan bumi—dan Eliana bertanya-tanya dalam hati, “Apa yang telah terjadi...?”

Sampai sepuluh hari setelah itu, Rafli tetap tak pernah muncul lagi—tidak di kampus, tidak di rumah, tidak dimana pun—dan sekarang Eliana berpikir jangan-jangan pacarnya itu terlibat lagi dalam masalah gawat menyangkut umat manusia dan keselamatan dunia.

Tetapi segawat apapun masalahnya, mengapa Rafli tak memberi kabar kepadanya? Atau apakah dia sekarang kembali ke planetnya—Cryptonite? Tengah berperang dengan Lex Luthor? Apakah dia disandera oleh Green Goblin? Atau disembunyikan oleh Doctor Octopus? Tetapi Eliana ingat bahwa pacarnya itu sudah bukan Superman lagi, juga bukan Spiderman lagi. Jadi...apa yang terjadi?

Ketika Eliana sudah merasa putus asa dan merasa buntu untuk memikirkan di manakah sekarang pacarnya itu berada, suatu sore yang tidak indah Rafli datang menemui Eliana di rumahnya. Tampang dan penampilan Rafli juga sama tidak indahnya. Tas ransel di punggungnya terlihat lusuh dan lecek—selusuh dan selecek pakaiannya.

“Raf...!” pekik Eliana dengan bingung dan terkejut dan senang dan heran ketika membukakan pintu rumahnya dan menyaksikan pacarnya telah berdiri di ambang pintu. “Kau dari mana saja...???”

Rafli nampak lelah—sangat lelah. “Boleh aku masuk dulu?”

“Oh, tentu saja,” kata Eliana. “Sori, aku terlupa mempersilakanmu masuk karena aku...begitu terkejut melihatmu kembali.”

Mereka duduk di sofa ruang tamu, dan Rafli nampak menyandarkan punggungnya dengan wajah yang lelah. Dia sepertinya baru menempuh suatu perjalanan yang jauh.

“Aku boleh minta minum, El?” ujar Rafli.

Eliana mengangguk, sekali lagi meminta maaf, lalu berlari ke belakang untuk mengambilkan minum untuk pacarnya.

Dengan terburu-buru, Eliana menyuguhkan dua gelas minuman di atas meja—satu gelas air putih dingin dan satu gelas teh hangat manis—Rafli boleh memilih sesukanya.

Rafli pun mengambil gelas teh hangat dan meminumnya dengan perlahan-lahan hingga habis. Eliana menatapnya dengan heran.

Bersambung ke: Dunia Tak Terlihat (6)