Dunia Tak Terlihat

“Mana cowokmu, El?” tanya Diani saat Eliana datang ke meja tempat mereka berkumpul.

“Mungkin sebentar lagi dia datang,” jawab Eliana dengan pasti. “Tadi dia bilang akan segera datang kalau urusannya sudah selesai.”

Maka mereka pun kemudian duduk-duduk sambil berbincang-bincang dengan seru—namun Rafli tidak juga datang. Beberapa perbincangan lagi dan mereka mulai membayangkan hamburger yang akan disantap—namun Rafli tetap tak kunjung datang. Eliana menjadi tak enak dengan kawan-kawannya. Ketika beberapa dari mereka mulai menatap Eliana dan dia merasa semakin tak enak, Eliana pun menggunakan ponselnya untuk menghubungi pacarnya itu.

Ketika hubungan tersambung dengan ponsel Rafli, Eliana mendengar suara yang ramai dan ribut di ponselnya. Dia pun harus berteriak agar Rafli bisa mendengar suaranya.

“RAF...!” kata Eliana di ponselnya. “KAU SUDAH DITUNGGU TEMAN-TEMAN DI SINI...!”

Suara Rafli terdengar tak jelas di tengah gemuruh suara ribut itu, “Aku masih ada masalah di sini, El...”

“MASALAH APA LAGI...???”

“Green Goblin mengamuk di Simpang Lima, dan aku...” suaranya hilang tertelan suara keributan di belakangnya.

“GREEN GOBLIN...?!”

Teman-temannya menatap kepada Eliana dengan kening berkerut.

“Ya, Green Goblin—dia mengamuk di sini dan seluruh Simpang Lima jadi kacau tak karuan...”

“SIMPANG LIMA YANG MANA, RAF?”

Suaranya tak jelas, “...pang Lima yang mana lagi? Tentu saja Simpang Lima Semarang!”

Eliana meletakkan ponselnya di atas meja dengan desahan kesal yang nelangsa.

“Ada masalah, El?” tanya Diani dengan penuh simpati.

“Rafli masih di Simpang Lima, Di,” sahut Eliana dengan lesu. “Sepertinya dia lagi ada masalah di sana...”

Teman-teman yang lain jadi terdiam—melihat tampang Eliana yang sedemikian suntuk, mereka jadi tak enak untuk melanjutkan obrolan mereka yang tadi lagi seru-serunya. Kini mereka duduk dengan diam, dan beberapa dari mereka menujukan pandangannya pada pesawat televisi yang ada di salah satu sudut gerai itu.

“El, lihat,” bisik Vika sambil menepuk punggung tangan Eliana.

Eliana menengok ke arah Vika di sebelahnya dan kemudian mengikuti pandangan Vika yang tertuju pada pesawat televisi.

Di pesawat televisi berukuran besar itu, Eliana menyaksikan sesuatu yang amat mengguncang pikirannya. Reporter stasiun televisi itu tengah memberitakan dari lokasi kejadian...

“Sekitar satu jam yang lalu, terjadi tabrakan beruntun di daerah Simpang Lima Semarang yang mengakibatkan jalan di sekitar komplek ini macet total. Sebuah truk muatan terbalik karena kecelakaan ini, sementara tiga mobil kijang saling bertabrakan—satu di antaranya terlempar dan menghantam komplek pertokoan. Sementara beberapa pengendara sepeda motor tergencet truk yang terbalik itu dan...”

Jadi Green Goblin benar-benar mengamuk di sana, batin Eliana dengan masygul.

Memang susah menjadi pacar Spiderman.

***

Ketika Eliana sudah mencoba beradaptasi dengan posisi barunya—sebagai pacar Spiderman—Rafli berganti identitas lagi.

“Berita buruk, El,” kata Rafli pagi itu dengan tampang yang benar-benar buruk, dan Eliana sudah mengira-ngira masalah apa lagi yang tengah dihadapi oleh umat manusia.

“Ada masalah lagi?” tanya Eliana dengan tampang serius.

“Yah,” Rafli mengangguk, kemudian berkata dengan suara datar, “sekarang aku bukan Spiderman lagi.”

“Bukan...? Jadi...jadi kau sekarang menjadi apa, Raf? Maksudku, sekarang kau menjadi siapa?”

“Aku tidak menjadi siapa-siapa, El, dan itulah buruknya.”

“Kau...kau tidak menjadi siapa-siapa?” Eliana bertanya tak paham.

“Yaah, aku tak menjadi siapa-siapa lagi sekarang. Aku hanya menjadi Rafli—seperti biasa.”

Eliana menghela napasnya dengan lega. “Bukankah itu bagus?”

“Tapi sekarang aku tak bisa lagi menyelamatkan umat manusia, El,” ujar Rafli dengan wajah yang penuh penyesalan.

Eliana menggenggam tangan Rafli dengan sikap menghibur, kemudian berkata dengan sama menghiburnya, “Setidaknya kau bisa menjadi dirimu sendiri. Dan itulah yang terpenting, Raf.”

“Yah, kau benar,” bisik Rafli. “Mungkin kau benar...”

Eliana tersenyum, mencoba membesarkan hati Rafli. Selamat tinggal Superman—juga Spiderman—pacarku telah kembali.

Bersambung ke: Dunia Tak Terlihat (5)