Dunia Tak Terlihat

Semenjak pertengkaran itu, Eliana sudah bersumpah untuk bubar dengan pacarnya—ia tak sanggup menjadi pacar Superman. Tetapi kemudian—malam Minggu setelahnya—Rafli datang menemuinya, dengan sebuket bunga dan senyum yang amat manis, dan Eliana pun terlupa pada sumpahnya.

“Maafkan aku atas ketidakhadiranku beberapa waktu yang lalu,” ucap Rafli dengan lembut dan terdengar penuh penyesalan.

Eliana hanya dapat mengangguk—yah, kadang-kadang kita memang harus mengalah demi keselamatan dunia dan kemaslahatan umat manusia, kan?

“Urusanmu sudah selesai, Raf?” tanya Eliana sungguh-sungguh, sementara mereka duduk di ruang tamu seperti biasa kalau Rafli datang apel malam Minggu.

“Urusan yang mana?” tanya Rafli seolah dia punya seribu satu urusan yang tengah dihadapi.

“Itu...urusan dengan musuh abadimu,” terang Eliana. “Siapa itu...Lex...”

“Oh, Lex Luthor?”

“Ya, itu.” Eliana mengangguk.

“Sudah selesai,” jawab Rafli dengan serius. “Rencananya gagal dan dunia kita dapat terselamatkan.”

“Syukurlah,” desah Eliana. Dan mereka akan punya waktu untuk bermesraan seperti dulu lagi.

“Tetapi, El,” kata Rafli, “urusanku bukan hanya itu saja—karena bukan hanya Lex Luthor yang mengancam kehidupan kita.”

“Ya?” Eliana benar-benar terkejut—dan dia heran mengapa dia terkejut.

“Kita juga menghadapi bencana yang amat besar karena penghuni planet pluto saat ini tengah menciptakan sebuah senjata nuklir yang akan diluncurkan ke planet bumi. Kalau itu terjadi, maka separuh lebih sedikit dari penduduk bumi ini akan tewas...”

Memang berat menjadi pacar Superman—dan Eliana mencoba menyadarkan dirinya akan kenyataan itu.

***

Ketika Eliana sudah mulai yakin kalau pacarnya itu memang Superman—dan Eliana sudah mencoba menyadarkan dirinya sendiri akan kenyataan yang berat itu, bahwa dia berpacaran dengan Superman—sesuatu terjadi dan Eliana harus memulai dari awal lagi. Rafli berganti identitas—dia bukan lagi Superman—sekarang dia menjadi Spiderman.

“Aku sendiri juga terkejut menghadapi kenyataan ini, El,” kata Rafli dengan sungguh-sungguh ketika pertama kalinya mengabarkan perubahan identitas itu. “Aku tak pernah menyangka kalau aku bisa berubah seperti ini...”

“Tapi, Raf,” sahut Eliana dengan sikap yang juga sungguh-sungguh, “Setahuku, Superman tak pernah berubah menjadi Spiderman, kan?”

“Seharusnya begitu,” jawab Rafli dengan tatapan bingung. “Tapi tadi malam, saat aku baru saja selesai makan malam, seekor laba-laba mendekati tanganku—dan dia menggigitku, dan tiba-tiba...aku menjadi Spiderman. Pada mulanya aku tak bisa mempercayai hal ini, El, tapi memang begitulah kenyataannya.”

Eliana menatap wajah pacarnya. “Jadi...sekarang kau Spiderman?”

“Jadi sekarang aku Spiderman,” jawab Rafli dengan yakin.

Dan Eliana pun mulai mengingat perubahan statusnya yang penting itu. Dia bukan lagi pacar Superman—dia telah menjadi kekasih Spiderman.

***

Ternyata menjadi pacar Spiderman itu lebih susah dibanding menjadi pacar Superman—kalau kau ingin tahu. Ketika menjadi Superman, Rafli hanya menghadapi satu musuh abadi—Lex Luthor. Tapi ketika berubah identitas menjadi Spiderman, Rafli menghadapi banyak musuh sekaligus—dari Green Goblin sampai Doctor Octopus sampai The Sandman. Dan itu membuat Rafli semakin sibuk dengan berbagai kegiatannya dalam menyelamatkan dunia dan kehidupan umat manusia—dan itu artinya Rafli semakin sedikit memiliki waktu untuk Eliana.

Seperti hari itu, Diani—salah satu sahabat Eliana—berulang tahun. Bersama beberapa sahabatnya yang lain, Diani merayakan ulang tahunnya yang ke 21 itu di salah satu gerai McDonald di Semarang. Semua sahabat Diani datang bersama pacarnya masing-masing sebagaimana yang juga diminta oleh Diani, namun Eliana datang sendirian.

Bersambung ke: Dunia Tak Terlihat (4)