Dunia Tak Terlihat
Eliana menatap wajah pacarnya dengan sungguh-sungguh, mencoba mencari apakah ada tanda-tanda wajah itu akan tersenyum—atau tertawa—namun wajah itu tetap wajah yang penuh keseriusan—dan Eliana jadi berpikir bahwa jangan-jangan dia memang berpacaran dengan Superman.

Besoknya, Eliana mendapati Rafli memakai kacamata di wajahnya—suatu hal yang belum pernah disaksikan Eliana sebelumnya. Setahu Eliana, Rafli tak memiliki masalah dengan kesehatan matanya, namun kacamata yang sekarang dikenakannya itu sepertinya kacamata min dengan lensa yang lebar.

“Kau ada masalah dengan matamu, Raf?” tanya Eliana saat mereka melangkah meninggalkan kelas seusai jam kuliah.

Rafli menggeleng perlahan sambil membetulkan letak kacamatanya.

“Dan kacamata itu...?” tuntut Eliana.

Rafli menjawab dengan suara yang begitu perlahan, “Seperti yang kukatakan kepadamu kemarin di kantin itu—kau masih ingat?”

“Bahwa kau Super...”

“Ya, itu,” sahut Rafli memotong ucapan Eliana. Ia kemudian berkata dengan suara yang lirih, “Ternyata ada beberapa orang yang mungkin juga mengetahui identitasku, El. Mereka sepertinya tahu siapa diriku, karena itulah sekarang aku mengenakan kacamata agar wajahku tak terlalu dikenali...”

Eliana mengerutkan kening. “Memangnya kenapa kalau ada orang-orang yang mengenalimu, Raf?”

Rafli menatap Eliana dengan tatapan seolah Eliana adalah cewek paling idiot sedunia. Ia kemudian berbisik, “Semua superhero harus menyembunyikan identitasnya, El, begitu pula denganku. Tidak boleh ada orang-orang yang tahu bahwa aku ini...” Rafli mengecilkan suaranya hingga menjadi seperti bisikan, “bahwa aku ini Superman.”

Dan...semenjak itulah, Eliana jadi mulai yakin bahwa dia memang berpacaran dengan Superman.

***

Tetapi ternyata tidak mudah menjadi pacar Superman—asal kau tahu. Gara-gara berpacaran dengan sesosok superhero paling terkenal di muka bumi ini, Eliana jadi sering makan hati dengan ulah pacarnya itu. Seringkali, pas malam Minggu, ketika seharusnya cowok itu datang untuk apel ke rumahnya, Rafli tidak datang, dan alasannya ada sesuatu yang sangat penting menyangkut keselamatan umat manusia—dan ia harus turun tangan untuk menyelesaikannya.

Siang harinya, Eliana mencoba menghubungi ponsel Rafli dan terus-terang mengajak cowoknya itu untuk kencan—menikmati akhir pekan—karena semalam dia tidak bisa apel. Tapi lagi-lagi Eliana harus makan hati karena cowoknya itu memiliki urusan penting lain—menyangkut keselamatan dunia.

Satu dua kali menghadapi penolakan semacam itu, Eliana masih mencoba menyabar-nyabarkan diri dan berusaha untuk memaklumi—urusan menyangkut keselamatan umat manusia tentu lebih penting daripada sekedar urusan apel dan menemui pacar, kan? Tetapi ketika hal itu terjadi berulang-ulang kali, Eliana jadi merasa bahwa kesabarannya makin menipis dan makin habis.

Suatu ketika, dengan perasaan dongkol karena semalam tak lagi diapeli—seperti malam Minggu-malam Minggu sebelumnya—Eliana pun menelepon ke ponsel Rafli dan memuntahkan kemarahannya.

“Aku tidak bisa seperti ini terus-menerus, Raf!” rutuk Eliana dengan jutek. “Kau sepertinya tak lagi menganggapku penting, dan kau terlalu sibuk dengan urusanmu sendiri dan kau sepertinya...”

“El...” sahut Rafli menghentikan muntahan Eliana, “dunia saat ini tengah menghadapi ancaman bencana yang sangat besar dan kupikir kita bisa menunda sejenak urusan pacaran kita...”

“Apa maksudmu...???!!!” Eliana berteriak seperti rocker cewek di depan ponselnya.

Tapi Rafli tak terpengaruh dengan kemarahan itu. Dengan suara yang sabar ia berkata perlahan, “Kau tahu siapa Lex Luthor?”

“Tidak—dan aku tidak ingin tahu!”

“Kau harus tahu, El,” sahut Rafli, masih dengan sabar. “Kau harus tahu siapa dia, karena dia musuh abadiku. Dan sekarang Lex Luthor tengah menciptakan mesin pembunuh massal dengan menggunakan bakteri-bakteri mikroba yang dihasilkan oleh basil-basil yang tumbuh dari ulat-ulat yang tak pernah kita bayangkan, sehingga...”

Sehingga Eliana sudah tak ingat lagi bagaimana penjelasan selengkapnya.

Bersambung ke: Dunia Tak Terlihat (3)