Dunia Tak Terlihat

Satu dari sepuluh kesalahan besar yang pernah dilakukan oleh Eliana dalam hidupnya barangkali adalah jatuh cinta kepada Rafli—salah satu mahasiswa terkenal, jago basket nomor satu—di kampusnya.

Ketika pertama kali bertemu dan kemudian kenal dan akrab dengan cowok itu, Eliana mengira kalau Rafli adalah sesosok cowok normal—dalam arti bahwa dia tidak memiliki hal-hal yang bisa dikatakan ‘eror’ dalam otaknya. Namun seiring dengan bergantinya hari dan Eliana semakin dekat dengan cowok itu, Eliana pun mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang sepertinya tidak beres dalam diri cowok itu—namun sialnya waktu itu dia sudah menjadi pacarnya—dan dia telah terlanjur sayang kepadanya.

Di mata Eliana, Rafli adalah sesosok cowok berwajah innocent—sesosok cowok yang selalu mampu membuat cewek jadi suka mendekatinya—termasuk Eliana. Dan Eliana menyukai Rafli bukan hanya karena tampang innocent-nya itu saja, tapi lebih dari itu, Eliana menyukai—dan jatuh cinta—pada Rafli karena cowok itu humoris serta memiliki sifat kekanak-kanakan—suatu hal yang sulit didapatkan Eliana dari cowok-cowok lain sekampusnya, sekaligus suatu daya tarik yang selalu membuat Eliana merasa tertarik.

Ya, Rafli memiliki sikap kekanak-kanakan yang bagi Eliana sangat menyenangkan—dan sampai mereka kemudian saling jatuh cinta dan berpacaran, Eliana pun masih menikmati sifat kekanak-kanakan yang ada pada diri Rafli itu.

Tetapi kemudian, seiring dengan makin dekatnya hubungan mereka, Eliana mulai menyadari bahwa Rafli bukan hanya memiliki sifat dan sikap kekanak-kanakan—namun juga memiliki sesuatu yang ‘eror’ di dalam dirinya—atau di otaknya. Kadang-kadang, cowok itu merasa dirinya Superman—oh, ini tidak bercanda, dan Eliana berani bersumpah bahwa memang itulah kenyataannya. Maksudnya, si Rafli ini benar-benar meyakini bahwa dirinya Superman.

Ketika pertama kali Rafli ‘mengaku’ kepada Eliana tentang hal itu, Eliana hanya mengira kalau cowoknya itu mulai muncul isengnya yang seperti biasa. Tapi ketika melihat tampang Rafli yang benar-benar serius saat membahas hal itu, Eliana jadi berdebar-debar sendiri—jangan-jangan cowoknya itu memang benar-benar Superman?

“Aku harus menengok planetku, El,” kata Rafli waktu itu di kantin kampus saat mereka makan siang selepas kuliah—pertama kalinya Rafli membahas masalah Superman itu.

“Maksudmu...planet apa, Raf?” tanya Eliana dengan tampang idiot.

“Tentu saja Cryptonite—planetku yang telah kutinggalkan itu,” jawab Rafli dengan sungguh-sungguh dan begitu yakin.

Eliana menatap wajah pacarnya di sampingnya dan mencoba mencari apakah ada tanda-tanda kalau cowoknya itu tengah bercanda. Namun melihat keseriusan di wajah Rafli, Eliana jadi bingung untuk menentukannya.

“Aku...aku tidak paham maksudmu, Raf,” kata Eliana kemudian.

Lalu Rafli menengok ke sekelilingnya—seperti mempelajari keadaan kantin tempat mereka berada—dan kemudian berbisik serius kepada Eliana, “Kau sudah harus mengetahui kenyataan ini, El. Sudah waktunya kau tahu bahwa aku...bahwa aku sesungguhnya...”

“Ya...?” Eliana berdebar-debar—sungguh berdebar-debar.

“Bahwa aku sesungguhnya...Superman.” Rafli mengumumkan.

“Kau...apa?!” Eliana kaget campur terkejut campur bingung campur shock.

“Aku Superman, El...”

“Kau Superman...???”

“Sssttt...” Rafli benar-benar menunjukkan wajah yang panik ketika melihat Eliana terbelalak dan menyebut ‘identitas asli’nya itu dengan suara yang cukup keras. Dia kemudian berbisik serius kepada Eliana, “Karena itulah, kau sudah harus menyadari siapa sebenarnya aku ini. Aku...aku hanya mengatakan hal ini kepadamu, El, dan kuharap kau tidak mengatakannya kepada siapapun. Ini...ini rahasia kita—dan aku percaya kepadamu.”

Bersambung ke: Dunia Tak Terlihat (2)