Diberdayakan oleh Blogger.

Misteri Villa Berdarah (13)

By | 16.59 Leave a Comment
Misteri Villa Berdarah
Lalu beberapa lama kemudian, ayahnya menghilang. Ia tak pernah lagi muncul di rumah. Aryo tak pernah tahu dimana ayahnya berada dan bagaimana kabarnya. Yang jelas, suatu hari, beberapa orang yang tak dikenalnya datang ke rumahnya untuk mengabarkan bahwa rumah yang ditempati Aryo itu sudah dijual kepada mereka. Mereka memperlihatkan surat-surat kepada Aryo, dan Aryo melihatnya dengan kebingungan serta kepanikan. Orang-orang yang tak dikenal itu tidak mengatakan apa-apa selain pemberitahuan itu, dan juga meminta agar Aryo secepatnya angkat kaki dari rumah itu. Sekali lagi Aryo kebingungan, dan juga panik.

Kakek dan nenek Aryo yang prihatin dengan nasib cucunya itu kemudian mengasuh Aryo di rumah mereka, dan kakek serta neneknyalah yang kemudian menghidupi Aryo sekaligus membiayai sekolah Aryo sampai SMA. Bertahun-tahun selama hidup bersama kakek dan neneknya, Aryo tak pernah lagi berjumpa dengan ayahnya, namun ia selalu saja terngiang-ngiang dengan suara ancaman ayahnya. Aryo pun tak punya niat untuk menceritakan kejadian malam tragis itu meski kepada kakek dan neneknya.

Selepas SMA, Aryo tahu kalau kakek dan neneknya tak sanggup lagi untuk membiayai pendidikannya. Maka Aryo pun tak mendesak mereka untuk terus membantunya. Aryo sendiri pun sudah merasa sangat berterima kasih atas bantuan dan kebaikan mereka selama ini.

Seorang tetangga yang punya usaha peternakan kemudian memberinya pekerjaan, meski bukan pekerjaan tetap. Setiap kali membutuhkan tenaganya, Aryo akan diundang untuk ikut membantunya. Pak Amin, tetangganya itu, memiliki peternakan ayam, lele, dan juga burung puyuh yang dijual telurnya. Aryo selalu siap bekerja pada Pak Amin, dan karena luasnya peternakan yang dimiliki oleh Pak Amin, Aryo pun hampir setiap hari bekerja di peternakan itu. Dari hasil bekerjanya itulah Aryo kemudian bisa menabung, dan lalu terbetik niatnya untuk kuliah dari hasil uang kerjanya itu.

Ketika niat untuk kuliah itu disampaikan pada majikannya, Pak Amin mendukungnya, dan dia pun menjanjikan untuk tetap mempekerjakan Aryo di pertenakannya sepulang kuliah.

Maka begitulah, Aryo mulai kuliah di sebuah kampus yang cukup dekat dengan rumah kakek-neneknya, sekaligus tetap bekerja pada Pak Amin sepulang dari kuliah. Kegiatan itu bisa dinikmati oleh Aryo. Pagi hari ia akan berangkat kuliah sampai siang, lalu pulang ke rumah kakek dan neneknya yang semakin tua, merawat dan membantu mereka, dan bila Pak Amin membutuhkannya, Aryo pun bekerja di rumah Pak Amin, kadang sampai sore, sering pula sampai malam saat banyak pekerjaan. Dengan aktivitasnya itu, Aryo juga sesekali bisa membantu kakek dan neneknya, dan Aryo pun merasa bahagia karena setidaknya dia bisa sedikit membalas kebaikan yang pernah mereka berikan kepadanya.

Tetapi nasib rupanya belum juga berpihak pada Aryo. Ketika Aryo telah mulai menikmati kuliahnya dan juga menikmati pekerjaannya di peternakan milik Pak Amin, flu burung menyerang dimana-mana, termasuk di peternakan milik Pak Amin. Suatu pagi, Pak Amin mendapati ribuan burung puyuhnya telah menjadi bangkai, dan ayam-ayamnya telah sakit parah dalam kandang-kandang mereka. Pak Amin shock, Aryo pun sangat kebingungan.

Ketika berita mengenai flu burung semakin santer beredar, Pak Amin tahu bahwa ayam dan juga burung puyuhnya telah terbunuh oleh wabah yang ganas itu, dan semenjak itulah Pak Amin merasa ketakutan untuk meneruskan peternakannya. Berita yang simpang-siur waktu itu menyebutkan kalau flu burung dapat menular pada manusia, dan Pak Amin lebih memilih tetap sehat meski ia harus kehilangan banyak uang. Ia mengalami kerugian yang teramat besar, dan kini satu-satunya peternakan yang masih dimilikinya hanyalah peternakan lele.

Bersambung ke: Misteri Villa Berdarah (14)

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar: